NILAI KEPERCAYAAN

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat tawaran kerjasama dari Perusahaan alat kesehatan Dental Pakistan, nama CEO-nya Mr Tahiramz. Kemarin pagi, ada 2 perusahaan alat kesehatan menelfon. Setelah memperkenalkan diri dan penjelasan singkat Company Profile selalu dilanjutkan dengan offfering product dan kerjasama ke depa, karena masih ada kegiatan yang lain, maka saya minta untuk mengirimkan via email.
Menjadi bagian dari Health Equipment Bussiness itu perlu banyak pertimbangan dan perhitungan. Seperti halnya perabotan rumah tangga, bisnis ini bukan termasuk retail kecil yang lancar layaknya kuliner atau pulsa data, bisnis ini lebih jarang dan perlu pasar yang lebih spesifik karena memang bukan merupakan komoditi kebutuhan umum khalayak orang. Sudah tentu, framing target market yang perlu saya target lebih banyak yang berhubungan dengan kesehatan.
Jika personnya mulai dari dokter, perawat, bidan, analis, apoteker, radiografer, laborat, tempatnya pun tidak jauh dari Rumah Sakit, Klinik, Rumah Sehat, Homecare, Laboratorium Swasta, BPM, Puskesmas,  dan UPTD Kesehatan yang lain.
Terlepas dari dunia bisnis medis, lima hari yang lalu saya membuat kontrak meeting dengan salah seorang sahabat tentang kerjasama even. Kerjasama ini lebih terkait tentang sumber dana yang akan diadakan sekitar bulan depan. Semuanya finded out nothing, tidak menghasilkan apapun. Undangan demi undangan lain baik on kampus dan non kampus tetap ada di hari-hari menjelang ramadhan.
Sahabat,.
Bukan soal bisnis atau organisasi yang menjadi fokus, lebih khusus adalah nilai sebuah kepercayaan. Jika saja setiap orang paham bagaimana pentingnya menjaga sebuah kepercayaan di atas kepentingan pribadi, maka negeri ini akan menjadi tempat dipenuhinya orang-orang yang memiliki loyalitas dan dedikasi tinggi serta tepat waktu mengejar visi apapun.
Mungkin beberapa tahun lalu Anda pernah mendengar kisah maskapai yang terlambat mendarat tepat waktu sampai tujuan? Karena keterlambatannya tersebut salah seorang penumpang menuntut ganti rugi lebih mahal dari harga pesawatnya, semua awak dan manajemen airplane dituntut ganti rugi beberapa miliar dolar. Hampir dalam sebulan yang lalu United Airways membuat catatan buruk sepanjang sejarah penerbangan dunia. Mulai dari pengusiran seorang dokter yang diturunkan secara paksa hingga kesalahan menerbangkan salah satu penumpang sejauh 4.800 km dari tujuan awalnya. Kini maskapai USA tersebut harus me-rebuild trust (Read : “Membangun kepercayaan ulang) kepada semua calon passenger dan aircraft management.
Sekali lagi ini tentang sebuah kepercayaan.
Kerjasama bisnis, tidak akan terjadi tanpa kepercayaan. Kesuksesan sebuah even tidak akan berjalan lancar tanpa kepercayaan.
Betapapun tingginya pendidikan dan status sosial tidak menjamin dedikasinya menjaga kepercayaan. Seberapapun cerdas dan pandainya orang, tingginya jabatan pemimpin namun tidak bisa tepat waktu, tepat janji, tepat target, all is non sense.
Sahabat,.
Jangan mendidik diri sendiri menjadi orang yang selalu pandai beralasan. Jangan tenggelam dalam budaya ‘Nanti’, ‘Jam karet’, ‘Besok’. Seberapa sulitnya, tepat waktulah dalam berjanji, tepat waktullah dalam menyelesaikan terget, tepat waktulah dalam menjaga amanah. Jangan korbankan status pendidikanmu, kesibukan pribadimu untuk menjadi self defense. Ketahuilah semua itu hanya pembenaran diri sendiri.
“Kepercayaan itu ibarat kertas, jika sekali diremas maka ia tidak akan kembali sempurna”.
Apa yang bisa dikerjakan hari ini, kerjakanlah!
Apa yang bisa diselesaikan hari ini, selesaikanlah!
No excuse! No forgive for everything no reason.
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al Insyirah: 7).
Satya Putra Lencana
Yogyakarta, 21 Mei 2017

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *