HARGAILAH PENGETAHUAN PRAKTIS

Setiap tahun jutaan anak muda lulus kuliah dengan penuh percaya diri serta kesombongan dan masuk ke dunia kerja hanya untuk mendapati betapa banyak yang tidak mereka ketahui. Jangan mengabaikan pentingnya pengetahuan praktis yang kita miliki dan pentingnya pengetahuan praktis yang bisa kita dapatkan dengan mempelajari seluruh aspek dari pekerjaan kita. Ibu Wening namanya, teman sebangku saat program pendidikan profesi di semarang. Bertahun-tahun Beliau menghabiskan waktu pendidikan dan pekerjaannya di major anastesi hingga menyandang Penata Anastesi. Bedanya, Beliau dari Major Anastesi sedangkan kami dari Keperawatan Profesi.

Saat kuliah dimulai, Group Discusion-pun sering terjadi di antara kami. Baik pengetahuan praktis, teoritis dan evidence base practice semua dihidangkan dalam satu meja diskusi melingkar. Setiap kami membawa senjata buku dan referensi masing-masing. Bagi mahasiswa yang tidak aktif, siap-siap menerima kekalahan dalam peperangan intelektual tersebut. Mulai dari senjata utama buku, pelindung jurnal ter-update, tak kalah paling penting adalah pengetahuan praktis di lapangan masing-masing prajurit dalam mengahadapi perang ilmiah harus dipersiapkan. Di suatu sela diskusi, salah seorang presenter mempresentasikan materinya untuk menjadi draft pembahasan diskusi hari itu. Core topic-nya hari itu sederhana, tentang bagaimana menangani pasien dengan Respiration Deppression during operating at Surgical Departement.

Beberapa anggota menjawab dengan jawaban sangat teoritis dan prosedural di Stase Keperawatan Medikal Bedah. Mulai dari measuring blood pressure, O2 satuartion, respiration rate, check heart rate dan lainya. Beberapa penata anastesi beserta tim kerja yang biasa di lapangan menjawab bahwa di dunia kerja tahapan seperti itu sangat memakan waktu dalam critical care to patient. Terlalu lama!. Tim anastesi sebagai penanggungjawab status hemodialisa pasien selama operasi berjalan harus tanggap untuk segala kemungkinan. Harus critical thinking terhadap setiap keputusan yang diambil. Tanggap, cepat dan tepat treatment untuk pasien yang mengalami depresi pernafasan selama operasi berlangsung adalah dengan cardiac monitoring  dan hemodialisys status pada mesin monitor serta tanggap dalam bantuan bagging. No manual.

 Sahabat,.

Sebagai tenaga kesehatan ataupun non kesehatan, Anda tentu pernah mengalami namanya kesenjangan penerapan ilmu yang di dapat di akademik dengan yang di lapangan bukan? Ya, tentu sebagian orang pernah merasakannya, apalagi yang pernah mengenyam kuliah pendidikan kesehatan, kerap kali ditemukan tidak satu atau dua kali. Sudah bekerjapun demikian. Pada dasarnya tidak ada yang salah, selama semua memiliki dasar dan referensi yang kuat serta ilmiah untuk dibuktikan. Sah-sah saja menggunakan referensi yang sudah lama, karena setiap majamenen layanan kesehatan juga memang berbeda. Jika saja ditemukan 2 orang yang sama di jenjang pendidikan namun yang satu freshgraduate dan satu lagi sudah mengantongi pengalaman kerja, tentu saja outcome yang dihasilkan akan berbeda.

Ambil simple example saja tentang public speaking. Ada sebagian orang yang sulit untuk menjadi pembicara yang baik di depan umum, ada juga yang dengan sangat mudah bisa menguasai audience dan berbicara lancar di khalayak ramai. Semua bukan hitung-hitungan seberapa banyak kita belajar teori public speaking di ajang seminar, training atau melahap setumpuk buku tips trik bicara di depan umum. Yang terpenting adalah bagaimana belajar langsung dari hasil pengalaman. Sama halnya kita belajar bahasa. Seorang pakar english pernah mengatakan, belajar english itu semua harus ditebus dengan praktice, practice and practice, nothing else (Read : “Praktek, praktek dan praktek, coba bicara langsung, tak ada cara lain)

Kesimpulannya,

Belajar ilmu apapun, namanya pengalaman itu tidak bisa ditebus dengan belajar secara teori semata. Perlu balance antara keduanya, atau bahkan diutamakan pengalaman. Wajar saja, setiap job vacancy atau job fair mencari calon employee yang sudah memiliki experience sebelumnya. Kita sangat bisa melihat perbedaannya. Pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman kerja itu enam kali lebih penting daripada ijazah untuk mengukur kemampuan kerja karyawan baru (Stenberg, et all. 2000. Practical Intelligence in Everyday Life. New York : Cambridge University Press)

Marhaban Ya Ramadhan,.
Selamat menyongsong Bulan Ramadhan 1438 H
*Satya Putra Lencana*
Kota Bakpia, May, 26th 2017
(Penulis adalah Ketua Umum IKASMY periode 2017-2019, semoga Allah memudahkan segara urusan beliau dalam mengemban amanah alumni)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *