PERTAHANAN TERBAIK ADALAH MENDENGARKAN

Setiap terjadi masalah ada dua jenis sifat manusia yang paling dominan. Ada tipe orang yang suka dikritik, namun ada juga yang tidak. Tipikal orang yang senang dikritik termasuk kategori pribadi yang terbuka dan sosialis tinggi. Case ini berbanding 360 derajat dengan yang kedua. Orang yang kedua adalah orang yang tidak senang dikritik. Dan sampai batas tertentu, semua orang akan menunjukkan sikap defensif, yaitu dorongan untuk menolak segala jenis kritik dengan menyangkal kebenaran kritik itu atau menyerang balik si pengkritik. Unfortunately, sikap membela diri tersebut tidak membantu kita. Sikap tersebut mendorong kita untuk mengabaikan potensi masukan yang bermanfaat, yang menghambat kita untuk berkembang.

Sahabat,.

Pahamilah bahwa kita mampu, dan tunjukkanlah. Akan tetapi, jangan melawan kritik hanya karena kita bisa. Ada sepenggal kisah, tentang seorang sahabat yang berhasil mencapai level eksekutif-wakil direktur marketing di sebuah perusahaan komunikasi besar. Suatu ketika kondisi pemasaran memburuk dan membuat perusahaan mengalami kesulitan. PHK pun dilakukan hingga karyawan di jajaran manajemen senior. Ia pun untuk pertama kalinya dalam periode 20 tahun harus mengirimkan resume untuk melamar pekerjaan.

Ia mengalami berbagai penolakan –mulai dari diabaikan sama sekali hingga mendapat jawaban bahwa kualifikasinya terlalu tinggi untuk jabatan yang dilamarnya. Ia tak percaya, biasanya ia bisa mengerjakan pekerjaan itu sambil tidur, dan sekarang ia harus duduk di hadapan pegawai rendahan di bagian Human Resource Departement (Personalia, red) supaya lamarannya diterima. Saat itu ia mengalami Post Power Syndrome (Suatu gejala yang ditandai gangguan emosional negatif, muncul ketika seseorang tidak lagi menduduki suatu posisi sosial, biasanya suatu jabatan dalam institusi tertentu, red) Rekan-rekannya bersimpati kepada dirinya, namun mereka mengatakan bahwa ia memerlukan sikap baru. Melihat bahwa ia bisa mendapatkan pekerjaan itu tapi kemudian ia memandang rendah prosesnya tidak akan meyakinkan siapapun bahwa ia adalah orang yang tepat untuk pekerjaan tersebut.

Sahabat,.

“Selama ia tidak bisa melupakan gagasan tentang apa yang biasa ia kerjakan dan mulai melihat apa yang seharusnya ia kerjakan, sesungguhnya ia tidak akan pernah maju.” Pada akhirnya, ia dengan pendekatan barunya tersebut, ia berhasil mendapatkan pekerjaan –ironisnya di bagian personalia.

Kesimpulan,. Sikap mempertahankan diri itu berkorelasi negatif dengan pembelajaran dalam pekerjaan. Orang-orang dengan kecenderungan mempertahankan diri yang kuat dalam kepribadiannya lebih banyak berbicara dalam rapat, lebih sering menyela pembicaraan orang lain, dan seperempat kali lebih lambat dalam beradaptasi dengan tugas baru (Hauen, R and T. Lund. “The Concept of General Expectancy in Various Personality Dispositions.” Scandinavian Journal of Psychology 40 : 109-14)

Mendengarlah, karena ia bukan tanda jiwa lemah,

Mendengarlah untuk menjadi pembicara yang baik,

Berilmulah sebelum berkata dan beramal,.

Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Imam Al-Bukhari berkata, “Al’Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali yang berarti “Ilmu itu sebelum berkata dan berbuat”. (Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala Al-Qur’an Surat Muhammad ayat 19)

Have a great moment in Second Day Ramadhan

Penulis: Ns Satya Putra Lencana S. Kep

@ Boarding House, 2nd Day Ramadhan / May, 28th 2017

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *