HIKMAH ILMIAH PUASA

Ramadhan adalah bulan ke sembilan dalam kalender islam dimana pada bulan tersebut terdapat kewajiban bagi seluruh  umat muslim di seluruh dunia menjalankan puasa beberapa jam dalam sehari selama sebulan penuh. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua, baik yang sehat maupun sakit (Read “Sakit ringan”) berlomba-lomba menjalankan kewajiban ini dengan sebaik mungkin. Puasa, sebagai salah satu rukun islam ini ternyata memiliki banyak manfaat kesehatan di dalamnya. Berikut beberapa fakta ilmiah dari puasa melalui scientific approach antara lain :

Pada saat puasa, sistem imun seharusnya terpengaruh oleh satu bulan pembatasan energi dikarenakan perubahan status hidrasi, status hormonal, dan iron serum. Namun, pada kenyataannya terbukti sebaliknya,  (Meckel et al, 2008).

Disebut acute energy restriction (Pembatasan Energi Akut), meningkatkan kapasitas antioksidan hingga meningkatkan sistem imun (Rankin et al, 2006). Antioksidan adalah molekul yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi molekul lain. Jadi, bermanfaat untuk mencegah radikal bebas, dan memicu reaksi berantai yang dapat merusak sel.

Penelitian pada di Atlet Yudo, Immunoglobulin A dan Immunoglobulin G meningkat selama Puasa Ramadhan. Atlet Yudo juga mengalami peningkatan vitamin A selama Ramadhan dan peningkatan C-Reactive Protein (Chaouachi et al, 2009).

Vitamin A merupakan salah satu jenis vitamin yang larut dalam lemak dan memiliki peranan yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Vitamin A memiliki banyak senyawa diantaranya retinol dan retinil aselat yang bermanfaat untuk; 1) Kesehatan mata, 2) Sistem imunitas tubuh, 3) Antioksidan, 4) Cancer Cell Inhibition (Read : “Menghambat pertumbuhan sel kanker).

C-Reactive Protein merupakan suatu protein yang dihasilkan oleh hati, terutama saat terjadi infeksi akut atau kronis akibat dari invasi bakteri, infeksi virus, jamur, penyakit rematik, keganasan, dan cedera jaringan dan nekrosis (Kematian jaringan, red)

Penelitian Maughan menunjukkan peningkatan Serum Transferin pada pemain sepak bola selama Ramadhan (Maughan et al., 2008). Transferin adalah protein yang salah satu sistem kerjanya mengangkut besi di dalam darah sehingga mencegah pengendapan.

Peningkatan imun selama Puasa Ramadhan juga tampak di efek positif pada fungsi fagosit neutrofil (Latifynia et al, 2009). Fagosit netrofil sama halnya dengan kita memasukan kotoran ke dalam sebuah kantong plastik, sehingga hal-hal jahat tetap tertutup di dalam kantong tertutup.

Banyak asumsi ilmiah yang implikasikan Puasa Ramadhan pada cairan tubuh yang menurun. Penelitian menunjukkan sebaliknya. Cairan tubuh tak berubah selama puasa, pada pemain sepak bola (Maughan et al., 2008 ) dan laki-laki yang aktif (Ramadan, 1999).

Puasa meningkatan kadar C4 serum, kadar IgA, yang memiliki efek protektif pada imun atlet terhadap infeksi (Khazaei, 2014).

Puasa meningkatkan kolesterol HDL dan apoprotein A1, penurunan kolesterol LDL (Adlouni, 1997; Maislos, 1998; Akanji, 2000). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa puasa ramadhan juga mencegah resiko kardiovaskuler (Aksungar, 2005).

Terbaru, disertasi rekan dari dr Gamal Albinsaid : Puasa Ramadhan tingkatkan ketahanan tubuh terhadap Mycobacterium tuberculose yaitu mengurangi resiko infeksi tuberculosis pada subjek sehat (Lahdimawan, 2014).

Salah satu manfaat puasa adalah penurunan presentase status merokok. (Suliman, 2004). Ini hikmah nyata dan jelas, karena memang merokok adalah diantara hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Mengapa merokok membatalkan puasa sedangkan inhaler tidak?

Sebabnya karena asap rokok mengandung banyak kumpulan zat yang masuk sampai ke perut dan lambung.

Syekh Muhammad bin Utsaimin ditanya tentang hukum mencium minyak wangi. Beliau menjawab, “Diperbolehkan menggunakan minyak wangi di siang hari bulan Ramadan dan boleh menciumnya, kecuali dupa. Tidak boleh menghirup bau dupa, karena asap dupa memiliki banyak zat yang bisa masuk ke lambung, dan dupa merupakan asap.” (Fatawa Islamiyah, 2:128)

Asap rokok semisal dengan dupa; keduanya mengandung banyak zat. Hanya saja, keduanya berbeda hukumnya. Dupa hukumnya halal dan baik, sedangkan rokok hukumnya haram dan buruk.

Lalu apa bedanya dengan inhaler? Penggunaan obat melalui inhaler contoh pada penyakit asma memang para ulama berselisih pendapat.

“Obat asma yang digunakan oleh orang sakit dengan cara diisap itu menuju paru-paru melalui tenggorokan, bukan menuju lambung. Karena itu, tidak bisa disebut ‘makan’ atau ‘minum’, dan tidak pula disamakan dengan makan dan minum. Akan tetapi, ini mirip dengan obat yang dimasukkan melalui uretra (saluran kencing), atau obat yang dimasukkan pada luka mendalam di kepala atau perut, atau mirip dengan celak atau enema (memasukkan obat melalui anus), atau tindakan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh dengan cara lainnya, yang tidak melalui mulut atau hidung (Lajnah Daimah : Komite Tetap untuk Fatwa dan Penelitian Islam Arab Saudi)

Namun yang paling kuat adalah bahwa penggunaan inhaler seperti obat asma dengan diisap tidak termasuk pembatal puasa karena penggunaan obat ini tidak termasuk makan maupun minum, dengan alasan apa pun.” (Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, Vol. 3, hlm. 365)

Dan masih banyak lagi manfaat kesehatan lainnnya dari berpuasa. Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi segenap umat muslim untuk tetap semangat menjalankan perintah agama kita tanpa keraguan di dalamnya.

Selalu ada hikmah dalam setiap ketaatan. Fasting is the first principle of medicine.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Penulis: Ns Satya Putra Lencana S. Kep

@ Boarding House, 4nd Day Ramadhan / May, 30th 2017

 

Referensi :

____________

Al-Qur’an Surat Al Baqarah (2) : 183

Adlouni A, Ghalim N, Benslimane A, lecerf JM. and Rachi S. (1997). Fasting During Ramadhan induce a marked Increase in High-Density Lipoprotein Cholesterol and Decrease in Low-Density Lipoprotein Cholesterol, Annal of Nutrition and Metabolisme, 41:242- 49

http://dx.doi.org/10.1159/000177999

Akanji AO, Mojiminiyi OA, Abdella N. (2000). Beneficial changes in serum apo A-1 and its ratio to apo B and HDL in stable hyperlipidaemic subjects after Ramadan fasting in Kuwait. European Journal Clinical Nutrition, 54(6):508–513.

Aksungar FB, Eren A, Ure S, Teskin O, Ates G. (2005) Effects of intermittent fasting on serum lipid levels, coagulation status and plasma homocysteine levels. Ann NutrMetab. 49(2):77–82

Chaouachi, A., Coutts, A.J., Wong, D.P., Roky. R., Mbazaa, A., Amri, A., & Chamari, K. (2009). Haematological, inflammatory, and immunological responses in elite judo athletes maintaining high training loads during Ramadan. Applied Physiology Nutrition and Metabolism, 34, 907–915.

Khazaei HA, Bokaeian M, Jalili A. The effect of fasting on the immune system of athletes during holly Ramadan. Zahedan J Res Med Sci (ZJRMS) 2014; 16 (6): 44-46.

Latifynia A, Vojgani M, Gharagozlou MJ, Sharifian R. (2009). Neutrophil function (innate immunity) during ramadan. J. Ayub Med Coll Abbottabad. 21(4): 111–115.

Lahdimawan A, Handono K, Indra MR, Prawiro SR (2014) Effect of Ramadan Fasting on the Ability of Serum, PBMC and Macrophages from Healthy Subjects to Kill M. Tuberculosis. IOSR Journal of Pharmacy and Biological Sciences 9:24-29

Meckel, Y., Ismaeel, A., & Eliakim, A. (2008). The effects of the Ramadan fast on physical performance and dietary habits in adolescent soccer players. European Journal of Applied Physiology, 102, 651–657.

Maughan, R.J., Bartagi., Z., Dvorak, J., & Leiper, J.B. (2008). Dietary intake and body composition of football players during the holy month of Ramadan. Journal of Sports Sciences, 26, 29–38.

Maislos M, Abou-Rabiah Y, Zuili I, Iordash S and Shany S. (1998) Gorging and plasma HDL-Cholesterol-The Ramadan model. European Journal of Clinical  Nutrition, 52: 127-30

Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, Fatawa Shiyam, no. 203 dan 204

Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, Fatawa Islamiyah, no. 128

Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, Vol. 3, hlm. 365

Rankin, J.W., Shute, M., Heffron, S.P., & Saker, K.E. (2006). Energy restriction but not protein source affects antioxidant capacity in athletes. Free Radical Biology and Medicine, 41, 1001-1009.

Ramadan, J., Telahoun, G., Al-Zaid, N.S., & Barac-Nieto, M. (1999). Responses to exercise, fluid, and energy balances during Ramadan in sedentary and active males. Nutrition, 15, 735–739.

Suriani, I., Zulkefli, N. A., Chung, C. S., & Sulaiman, Z. M. (2015). Factors Influencing Smoking Behaviour Changes during Ramadan among Malay Male Students. Journal of Fasting and Health , 3(3):97-102.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *