BOLEHKAH BERBEKAM PADA SAAT PUASA?

Masih berkaitan dengan Puasa Ramadhan, sebelum membahas tentang boleh tidaknya berbekam pada saat puasa, terlebih dahulu akan dibahas mengenai dasar bekam dan sejarahnya hingga sampai di Indonesia. Pada artikel ini, masih dengan Pendekatan Ilmiah, kami tidak membahas bekam secara detail dan lebih fokus kepada manfaat bekam bagi kesehatan serta kaitannya pada saat berpuasa.

Bekam atau yang lebih dikenal dengan “Al-Hijamah” di Timur Tengah ini keberadaannya sudah lama dikenal dan digunakan sebagai salah satu pengobatan medis. Beberapa scientis sudah mulai memberikan perhatiannnya kepada salah satu Pengobatan Islam ini yang dibuktikan dengan mulai banyaknya literatur ilmiah tentang bekam.

A. Pengertian Bekam

Bekam  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah mengeluarkan darah  (Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa, 2008).

Sedangkan  Terapi Bekam adalah metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah beku  yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia. Berbekam dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya. Pengertian ini mencakup dua mekanisme pokok dari bekam, yaitu proses pemvakuman kulit dan dilanjutkan dengan pengeluaran darah dari kulit yang telah divakum sebelumnya (Umar, 2008).

B. Sejarah Bekam

Bekam (Read : Arab “Al-Hijamah; Inggris “Cupping/Blood-Leting; Cina “Po Hou Kuan”) dan  banyak istilah lainnya sudah dikenal sejak zaman dahulu, yaitu kerajaan Sumeria, kemudian terus berkembang sampai Babilonia, mesir Kuno, Saba, dan Persia. Pada zaman Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam, Beliau menggunakan tanduk kerbau atau sapi, tulang unta, gading gajah. Pada zaman Cina Kuno mereka menyebut Hijamah sebagai “Perawatan Tanduk” karena tanduk menggantikan kaca (Manz, 2009).

Seorang herbalis Cina, Ge Hong (281-341 M) dalam bukunya A handbook of Prescriptions for Emergencies  menggunakan tanduk hewan untuk membekam atau mengeluarkan bisul yang disebut tehnik “Jiaofa”, sedangkan di masa Dinasti Tang, bekam  dipakai untuk mengobati TBC paru-paru. Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah),  orang-orang di eropa menggunakan lintah (Al’alaq) sebagai alat untuk bekam (dikenal dengan istilah Leech Therapy). Pada satu masa, 40 juta lintah diimpor ke Negara Perancis untuk tujuan itu. Lintah-lintah itu dilaparkan tanpa diberi makan. Jadi bila disangkutkan pada tubuh manusia, dia akan terus menghisap darah dengan efektif. Setelah kenyang,  ia tidak mempu lagi untuk bergerak dan terjatuh. Hal ini masih dipraktikkan sampai sekarang (Curtis, 2005).

Bekam di Indonesia tidak ada catatan resmi mengenai kapan metode ini. Diduga kuat pengobatan ini masuk seiring dengan masuknya para pedagang Gujarat dan Arab yang menyebarkan agama Islam. Metode ini dahulu banyak dipraktikkan oleh pada kiyai  dan santri yang memperlajari dari “Kitab Kuning”. Pada waktu itu bekam dimanfaatkan untuk mengobati keluhan sakit pinggang atau nyeri di badan, dan sakit kepala atau yang dikenal dengan istilah “Masuk Angin” (Yasin, 2005).

C. Beberapa manfaat bekam diantaranya :

  • Berbekam dapat menurunkan tekanan darah (Jansen, 2013; Lee, Choe, Shin, Kim, & Nam, 2010; Kamaludin, 2010).
  • Mengurangi sakit kepala dan migraine (Ahmadi, Schwebel, & Rezaei, 2008).
  • Mengurangi nyeri dan  juga low back pain (Farhadi, Schwebel, Saeb, Choubsaz, Mohammadi, & Ahmadi, 2009).
  • Setiap satu sesi bekam mengakibatkan pembersihan darah secara signifikan terhadap serum trigliserida, kolesterol total, LDL-kolesterol, ferritin (beredarnya zat besi), asam urat, autoantibody dan reseptor sitokin (Alshowafi, 2010).
  • Melalui pembersihan darah yang abnormal meningkatkan unsur zat normal misalnya zat besi atau autoantibodi (Alshowafi, 2010). Kedua zat hidrofilik dan hidrofobik (Trigliserida, kolesterol dan LDL) dapat diekskresikan lebih efektif dari ekskresi glomerular ginjal.
  • Bekam mengobati trigeminal neuralgia (penyebab sakit kepala) dan mencegah peningkatan profil lipid serum (penyebab aterosklerosis) dan serum asam urat (penyebab gout arthritis) secara signifikan (Alshowafi, 2010).
  • Dapat mengeluarkan racun endogen dan racun eksogen dalam darah (Ahmed, Madbouly, Maklad, & Abu-Shady, 2005)
  • Menghilangkan kemacetan pembuluh darah dan meningkatkan sirkulasi serta mencegah hipertensi (El Sayed, Mahmoud, & Nabo, 2013).
  • Membersihkan bakteri selulitis lokal dan racun bakteri (Tian, Tian, Wang, Yang, Wang, & Yang, 2013)
  • Bekam membersihkan darah dari fragmen sel hemolisis, pembebasan hemoglobin dan pembebasan zat patologis seperti kelebihan zat besi pada orang sehat dan penderita thalassemia (Sohn, et al., 2008).
  • Pada pasien asma (Yang menerapkan bekam & farmakoterapi, red), bekam membantu perbaikan gejala siang hari, gejala nokturnal, kebutuhan untuk pereda, eksaserbasi, serta perbaikan pada tes fungsi pernapasan (Abd Al-Jawad, Mohamed, El-Sayed, & ANM, 2011).
  • Bekam memelihara dasar dan struktur jaringan dalam jangka waktu yang lama (Hong, Wu, Lu, Cai, & Guo, 2011)
  • Bekam juga meningkatkan kekebalan tubuh alami yaiitu memalui proses leukositosis (Shami, Sauls, & Weinberg, 1998).
  • Bekam dilaporkan dapat mengobati vitiligo (Awad, 2013).
  • Terapi bekam adalah lebih baik daripada akupunktur dalam mengobati nyeri hemiplegia dan bahu atas setelah stroke. Efek menguntungkan dari bekam pada afasia dan cegukan keras setelah stroke juga dilaporkan (Lee, Choe, Shin, Kim, & Nam, 2010).
  • Bekam dilaporkan dapat mengobati virus hepatitis (Badawy & El-Hazemy, 2007).
  • Bekam menurunkan kejadian penyakit jantung infark eksperimental dan aritmia fatal (El Sayed, Mahmoud, & Nabo, 2013).
  • Bekam melindungi perlawanan dan mengobati infeksi yang disebabkan oleh virus herpes (El Sayed, Mahmoud, & Nabo, 2013)..
  • Bekam membersihkan serum dari IgE, IL-2 dan C3 signifikan (El-Domyati, Saleh, & Barakat, 2013).
  • Bekam mencegah pertumbuhan sel-sel kanker dan produk sel tumor. Nitric Oxide (NO) (yang dihasilkan selama Al-hijamah) memiliki kedua efek anti-neoplastik dan anti-proliferasi (El Sayed, Mahmoud, & Nabo, 2013).

 D. Berbekam Saat Puasa

Terlepas dari hukum berbekam pada saat puasa adalah diperbolehkan (Pendapat jumhur ulama tidak membatalkan puasa, red), pada saat orang berpuasa kondisi tubuh berada pada fase lapar. Ketika asupan nutrisi inadekuat maka lebih menyebabkan kelemahan.  Maka disarankan untuk menghindari berbekam. Selain sedang mengalami kelelahan berat seseorang yang berpuasa cenderung memiliki tekanan darah menurun kurang dari 80 mmHg (Hipotensi). Hal ini bisa menyebabkan resiko pasien syok atau pingsan. Demikian juga sebaiknya menghindari untuk membekam pasien yang sudah lansia dan lemah fisiknya serta anak-anak yang tubuhnya lemah atau di bawah 3 tahun  (El-Firdan, 1432 H / 2011 M).

Rasulullah Sholaallahu’alaihi wasallam bersabda:

الشِّفَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَإِنِّيْ أَنْهَى أُمَّتِيْ عَنْ الْكَيِّ

“Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu minum madu, sayatan pisau bekam dan sundutan dengan api (kay). Sesungguhnya Aku melarang ummat-Ku (berobat) dengan kay (HR Bukhari).

Rasulullah Sholaallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pada bekam itu terkandung kesembuhan.” (Kitab Mukhtashar Muslim (no. 1480), Shahihul Jaami’ (no. 2128) dan Silsilah al-Hadiits ash-Shahiihah (no. 864), karya Imam al-Albani)

Selalu ada hikmah dalam ketaatan,.
Selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan

 

Penulis: Ns Satya Putra Lencana S. Kep

May, 31st 2017 /Ramadhan, 5th 1438 H

 

Referensi :

____________

Abd Al-Jawad, M., Mohamed, S., El-Sayed, B., & ANM, M. (2011). Evaluation of Wet Cupping Therapy (Hijama) As asn Adjuvant Therapy in The Management of Bronchial Asthma. Indian Journal of Physiotherapy and Occupational Therapy – An INternatioanl Journal , 5 : 122-126.

Ahmadi, A., Schwebel, D. C., & Rezaei, M. (2008). The Efficacy of Wet Cupping in The Treatmen of Tension and Migraine Headache. The AmericanJournal of Chinese Medicine , 36, 37-44.

Ahmed, S. M., Madbouly, N. H., Maklad, S. S., & Abu-Shady, E. A. (2005). Immunomodulatorry Effects of Bloodletting Cupping Therapy in Patients with Rheumatoid Arthritis. Egytph Journal Immunol , 12 : 39-51.

Akbari, A., Zadeh, S., Ramezani, M., & Zadeh, S. (t.thn.). The Effects of Hijama (Cupping) on Oxidative Stress Inddexes and Various Blood Factors in Patients Suffering from Diabetes Type II.

Alshowafi, F. K. (2010). Effect of Blood Cupping on Some Biochemical Parameter. Medical Journal od Cairo University (78), 311-315.

Awad, S. S. (2013). Repigmentation of Poliosis After Epithelial Grafting for Vitiligo. Dermatology Surgical , 39 : 406-11.

Badawy, A., & El-Hazemy. (2007). Al-Hijamah (A Scientific Perspective) (In Arabic). A-Sunnah Library. Cairo, Egypt , 49-59.

Badawy, A., & El-Hazemy. (2007). Al-Hijamah (A Scientific Perspective) In Arabic). Al-Sunnah Library. Cairo Egypt , 49-59.

Bassaneze, V., Barauna, V., Livini-Ramos, C., Kalil, J., Schettert, T. T., Miyakawa, A. A., et al. (2010). Shear Stress Induces Nitric Oxide-Mediated Vascular Endothelial Growth Factor Production In Human Adipose Tissue Mesenchymal Stem Cells. Stem Cells Dev , 19 : 371-8.

Cao, H., Li, X., & Liu, J. (2012). An Update Review of The Efficacy of Cupping Therapy. PLos One , 7 : e31793.

Curtis, N. J. (2005). Management of Urinary Tract Infection : Historical Perspective and Current Strategies : Part 1 Before Antibioticcs. Journal of Nursing , 173 (1) : 21-26.

Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

El Sayed, S. M., Mahmoud, H. S., & Nabo, M. M. (2013). Medical and Scientific bases of Wet Cupping Therapy (Al-Hijamah) : In Light of Modern Medicine and Prophetic Medicine. Alternative and Integrative Medicine , 2 : 1-16.

El-Domyati, M., Saleh, F., & Barakat, M. a. (2013). Evaluationof Cupping Therapy in Some Dermatoses. Egyptian Dermatology Online Journal , 9 : 79-82.

El-Firdan, A. H. (1432 H / 2011 M). Asy Syifa Journal , 48-52.

Farhadi, K., Schwebel, D. C., Saeb, M., Choubsaz, M., Mohammadi, R., & Ahmadi, A. (2009). The Effectiveness of Wet-Cupping for Non Spesific Low Back pain in Iran : A Randomized Controlled Trial. US National Library of Medicine National Institutes of Health , 17 (1), 9-15.

Green, D., McMahon, B., Foiles, N., & Tian, L. (2008). Measurentment of Hemostatic Factors in EDTA Plasma. American Journal Clinical Pathologic , 130 : 811-815.

Han, J. S. (2004). Acupuncture and Endorphins. Neurosci Lett , 361 : 258-261.

Hong, S., Wu, F., Lu, X., Cai, Q., & Guo, Y. (2011). Study on The Mechanisms of Cupping Therapy. Zhongguo Zhen Jiu , 311 : 932-4.

Lee, M. S., Choe, T. Y., Shin, B. C., Kim, J. I., & Nam, S. S. (2010). Cupping for Hypertension. A systematicc Review. Informa Healthcare USA. Taylor & Francis Ltd , 423-425.

Shami, P., Sauls, D., & Weinberg, J. (1998). Schedule and Concentration-Dependent Induction of Apoptosis in Leukimia Cells by Nitric Oxide. Leukemia , 12 : 1461-6.

Sohn, I., Jin, E., Cho, J., Kim, C., Bae, J., Moon, J., et al. (2008). Bloodletting-Induced Cardiomyoopathy : Reversible Cardiac Hyperthropy in Severe Chronic Anemia from Long-Term Bloodletting with Cupping. Europe Journal Echocardiography , 9 : 585-6.

Tian, H., Tian, Y. J., Wang, B., Yang, L., Wang, Y. Y., & Yang, J. S. (2013). Impacts of Bleeding and Cupping Therapy on Serum P Substance In Patients of Posttherpetic Neuralgia. Zhongguo Zhen Jiu , 33(8) : 678-81.

Umar, W. A. (2008). Sembuh dengan Satu Titi . Solo: Al Qowam.

Yasin, A. B. (2005). Bekam Sunnah dan Mukjizat Nabi. Solo: Al Qowam.

Zhang, C., Liang, T., & Zhang, W. (2006). Effects of Drug Cupping Therapy on Immune Function in Chronic Asthmatic Bronchitis Patients During Protracted Period. Zhongguo Zhong Xi Yi Jie He Za Zhi , 26 : 984-7.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *